Korean Chingu

Like Korea Love Indonesia

Orang tua murid di Korea memonitor segala aspek kehidupan bersekolah anak-anaknya Orang tua murid di Korea memonitor segala aspek kehidupan bersekolah anak-anaknya
Para orang tua di Korea tampaknya gemar memonitor kehidupan sekolah anaknya, selalu menunggu di luar sekolah tiap hari, mengganggu para guru, dan menggunakan aplikasi... Orang tua murid di Korea memonitor segala aspek kehidupan bersekolah anak-anaknya

Para orang tua di Korea tampaknya gemar memonitor kehidupan sekolah anaknya, selalu menunggu di luar sekolah tiap hari, mengganggu para guru, dan menggunakan aplikasi grup chat untuk memastikan anak mereka melakukan yang terbaik di sekolah.

Penerbit editorial di koran Hankyoreh pada 11 Mei membeberkan beberapa cara orang tua mengontrol dan memonitor tiap gerakan anak mereka.

Berdasarkan penulis, “Apakah boleh aku membiarkan mereka bermain?” adalah salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan di konseling orang tua di sekolah. Diskusi akan forum yang membahas bermain vs belajar kerap digelar. Orang tua anak yg lebih muda, menentukan berapa jam anak mereka diperbolehkan bermain. Sedangkan orang tua anak yg lebih tua, mereka berdebat apakah baik membiarkan anak-anak bermain bersama tanpa mengawasi orang dewasa, dan buku apa yang harus mereka pelajari.

Ada beberapa cerita bahwa beberapa ibu mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah dan menunggu mereka pulang di sekitar sekolah ketika hampir waktu pulang. Mereka duduk di bangku dan melihat anak mereka di luar ketika gym, dan melambaikan tangan ke anak-anak mereka ketika kontak mata. Jika ada sekolah yang melarang orang tua masuk ke dalam lingkup sekolah, mereka akan menunggu di luar gerbang mendengarkan anak-anak mereka bermain di lapangan.

Para murid SD biasa mengganti tempat duduk mereka tiap bulan, dan para guru dibanjiri komplain dan permintaan dari para orang tua yang ingin diberi tempat duduk di sebelah murid terpandai atau duduk di tempat yang paling menguntungkan.

Jaman sekarang, memasang CCTV di TK Korea sudah legal, penulis memperkirakan memasang CCTV di ruang kelas akan diperbolehkan dalam waktu dekat. Akan tetapi, mereka berkata bahwa orang tua anak sekolah lebih baik daripada CCTV. Separuh ibu di tiap kelas menghabiskan waktu mereka memilik agenda harian kelas anak mereka di grup chat. Mereka saling menanyakan materi, evaluasi dan PR. Mereka juga belajar apa yang membuat guru marah hari itu, atau murid mana yang keluar. Informasi yang dibagi juga berkisar tentang toko roti mana yang paling disuka para guru atau apakah para guru lebih suka Americano daripada latte.

Pada pergantian semester, para orang tua mulai chat privat satu sama lain di luar chat grup. Terjadi periode bulan madu di awal semester di bulan Maret dimana para orang tua berbagi apapun yang mereka tau untuk membantu satu sama lain, tapi semuanya sia-sia setelah itu karena persaingan antar murid menjadi sengit.

Mereka juga bertukar informasi tentang tes yang akan datang, tapi semuanya berubah setelah hasilnya keluar. Orang tua yang kecewa dengan nilai anaknya mengeluarkan frustasi mereka melalui chat privat dengan mengklaim bahwa mereka yang berkata tidak memaksa anak mereka belajar sesungguhnya telah mengirim anak mereka ke beberapa kelas ekstra.

Berdasarkan penulis, masalahnya adalah para orang tua didera perasaan khawatir jika anak mereka membuat satu saja kesalahan -baik itu memilih buku yang salah atau membiarkan beberapa kesempatan lewat- mereka akan merusak masa depan anak mereka. Hal itulah yang membuat kompetitif masyarakat Korea makin menjadi sekarang ini, yang membuat para orang tua mengharuskan memberikan kesempatan terbaik untuk sukses.

www.koreanchingu.com

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *